BERDIKARI (BERDIRI DI ATAS KAKI SENDIRI)

The crowning of Independence is not membership of the UN, but the ability to Stand on our own feet.

TRISAKTI TAVIP (TAHUN VIVERE PERICOLOSO)

The Indonesian people can take everything for the sake of revolution.

MANIFESTO POLITIK (USDEK)

The Constitution is made for man, and not man for the Constitution.

PANCASILA (BHINNEKA TUNGGAL IKA)

Between Indonesia and Pancasila is like a Religion with his Teachings.

NASASOS (NASIONALISME AGAMA SOSIALISME)

Tidak ada kerugian bagi Nasionalis jika dalam gerakannya, bekerja bersama-sama dengan Islamis dan Sosialis.

"Aku tahu bagaimana kecintaanmu pada tanah air. Kuhargai semangatmu yang berkobar-kobar itu. Tapi hanya itu yang kamu miliki. Engkau harus bijaksana serta bekerja dengan kepala dingin.”

Jumat, 25 Juli 2014

Transportasi & Tata Guna Lahan

Browse: Home + +

TRANSPORTASI

Transportasi
- Hal-hal yang berkaitan dengan pemindahan orang dan atau barang dari suatu tempat (asal) ke tempat lain (tujuan).
- Perpindahan/pergerakan orang, barang, informasi, untuk tujuan spesifik dari area/satu tempat ke tempat lain dalam ruang spasial.

Rekayasa Transportasi
Penerapan prinsip-prinsip ilmiah ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam semua tahapan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan infrastuktur transportasi untuk menjamin terselenggaranya semua pergerakan secara aman, nyaman, mudah, cepat, ekonomis, dan serasi,  serta bersahabat dengan lingkungan.

Selasa, 01 Juli 2014

BENTENG VASTENBURG SURAKARTA

Browse: Home + +

Oleh:
Andika Hana Pegiki Kaiba
Ghavi Yuda Sefaji

Objek Wisata meupakan sebuah objek yang dapat menarik perhatian orang untuk melihat dan menikmati apa yang ada di dalamnya, baik masyarakat setempat maupun luar daerah tersebut. Objek wisata biasanya mengundang banyak orang yang ingin menikmati keindahannya, dan oleh penduduk setempat, kesempatan ini digunakan untuk menyediakan segala macam kebutuhan wisatawan, mulai dari papan, pangan, dan tentunya kenang-kenangan atau suvenir supaya orang tersebut dapat mengunjungi kembali objek wisata tersebut. Hal ini menyebabkan roda ekonomi dari daerah tersebut bergerak. Namun tentunya tidak hanya aspek ekonomi saja yang berubah, aspek sosial budaya juga tentunya mengalami perubahan. Penduduk setempat tentu harus menerima segala konskuensi yang ada, karena banyak orang asing yang masuk ke daerah tempat tinggal mereka, dan berperilaku sesuai dengan adat daerah asal mereka yang tentunya berbeda dengan adat daerah objek wisata tersebut.

1. Kondisi Fisik Benteng Vastenburg

Bila kita mendengar kata benteng apa yang ada di benak kita? Bebatuan kokoh berwarna abu-abu, berderet rapi dan mengeluarkan aura kekuatan yang luar biasa seperti tembok Cina itu?  Kalau iya, sama! Saya juga berpikir begitu. Tapi sayang, bayangan itu langsung buyar saat melihat kondisi Benteng Vastenburg yang ada di Solo. KeberadaanBenteng Vastenburg yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, jantungnya Kota Solo, tidak sama dengan Benteng Vredeburg di Yogyakarta. Vredeburg dibangun sejajar garis lurus dengan Keraton Yogyakarta dan masih terawat hingga kini sedangkan nasib Benteng Vastenburg kian mengenaskan. Benteng Vastenburg dibangun oleh Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff pada 1745 untuk mengawasi Keraton Kasunanan Surakarta. Benteng yang pada masa kemerdekaan pernah menjadi asrama militer Brigade Infantri 6, Trisakti Baladaya, dan Kostrad ini kini terkesan kumuh akibat tertutup bangunan-bangunan modern yang berdiri di sekitarnya.


Setelah Indonesia merdeka, Benteng Vastenburg ditinggalkan oleh Belanda. Sempat digunakan sebagai kompleks latihan militer TNI/ABRI, bangunan ini kemudian terbengkalai. Apalagi saat kepemilikannya jatuh ke  tangan swasta dan perorangan, benteng inipun akhirnya benar-benar mati. Kekokohannya digerogoti lumut yang melapukkan dinding besarnya. Wajahnya yang gagah sirna oleh semak kering yang mengepungnya.  Kondisinya seakan menjadi potret sebuah bangsa yang kerap melupakan dan mengabaikan warisan sejarahnya. Pemerintahan terdahulu malah menjual areal benteng ini kepada pihak swasta yang berniat merubuhkannya dan membangun gedung baru di situ. Beruntung Solo punya Jokowi dulu yang berjuang mati-matian untuk membelinya kembali dan sedikit demi sedikit mengembalikan jejak sejarah ini pada fungsinya dengan menggelar agenda seni budaya berskala internasional.

Untuk menutupi wajah rapuhnya yang kusam, Vastenburg sempat ditutup rapat dengan pagar seng yang mengelilingi lahan seluas sekitar 40.000 m² ini.  Kini pagar seng itu telah dibuka kembali. Semak di sekelilingnya juga mulai dibersihkan. Namun wajah Vastenburg masih saja lusuh dengan bangunan yang terlihat rapuh.Parit sedalam 1,5 meter dengan lebar sekitar 1,5-2 meter mengelilingi Benteng Vastenburg. Parit tersebut kini mati dan ditumbuhi semak. Sementara di kanan dan kiri  gerbang depan terdapat patung sapi yang duduk bersimpuh menghadap ke depan. Bagian depan benteng adalah lapangan yang ditumbuhi beberapa pohon beringin. Di lapangan tersebut terdapat 4 sumur yang airnya belum kering hingga kini. Benteng ini dibangun dengan pemilihan lokasi yang cermat. Secara geografi dan hidrologi, pohon Beringin atau Kelapa menunjukkan sebuah daerah yang memiliki kandungan arit tawar tinggi. Oleh karena itu hampir semua benteng yang dibangun Belanda di Indonesia mewarisi pohon Beringin atau berada di tempat yang banyak ditumbuhi Kelapa.

Tembok-tembok besar setinggi 4-6 meter yang menjadi dinding utama benteng terlihat rapuh. Lumut yang tumbuh dan kulitnya yang terkelupas menambah suram wajah Vastenburg. Tak tampak lagi gambaran sebuah benteng yang kokoh dan gagah. Sebuah plakat dari tahun 2012 yang tertempel di dinding depan menunjukkan jika Benteng Vastenburg sesungguhnya sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya semanjak tahun 1997. Ya, baru sekadar ditetapkan saja namun belum terlaksana dengan baik.

Belanda sesungguhnya mewariskan sepenggal ilmu planologi yang berharga melalui rancang bangun benteng yang terkonsep matang beserta teknologi pengelolaan air yang baik. Tak hanya membangun parit di sekeliling benteng, Belanda juga meletakkan saluran air raksasa di beberapa titik di dalam parit. Bekas saluran itu hingga kini masih dapat dijumpai sampai saat ini.Selain pintu gerbang utama di depan, ada juga pintu lainnya yang berukuran lebih kecil di bagian samping. Gerbang belakang Benteng Vastenburg dengan pintu besi yang sudah berkarat. Sebuah jembatan di atas parit menghubungkan pintu dengan halam belakang. Tak jauh beda dengan gerbang depan, gerbang belakang juga kusam dengan tembok-tembok terkelupas ditumbuhi lumut dan paku-pakuan. Mengintip dari bagian dalam benteng ada sebuah tanah lapang dengan rumput kering terhampar. Ditanah lapang tersebut bisa kita jumpai ada beberapa pohon besar di dalamnya. Namun jika kita lihat di bawah pohon-pohon itu, belasan kambing digembala dan berteduh di sana. Pemandangan Benteng Vastenburg pun seperti sebuah  kandang kambing berukuran besar.

Tanah lapang di dalam Benteng Vastenburg. Dahulu dibagian ini diyakini terdapat bangunan-bangunan semacam camp prajurit. Kini hanya sedikit sisa-sisa pondasinya yang masih dapat ditemukan tersamar oleh tanah dan rumput.Ada juga sebuah pompa air tua tertinggal di dalam benteng. Pompa ini masih berfungsi dengan air jernih yang mengalir setiap kali tuasnya diangkat. Dan juga dapat kita temui di bagian dalam terdapat tangga untuk naik ke sebuah gardu yang mirip pos pengawasan di sisi belakang benteng. Bila dilihat dari bagian gerbang depan benteng dapat kita lihat ke dalam ada beberapa jendela-jendela yang sebagian besar kacanya sudah pecah namun masih terpasang di tembok-tembok kusam tersebut. Pintu untuk naik menuju ke atas benteng sudah ditutup dengan seng.

2. Kondisi Sosial Masyarakat Sekitar Benteng Vastenburg

Karena letaknya yang berada di kawasan CBD (Central Business District/ Kawasan Pusat Bisnis) Kota Surakarta, dimana sebelah barat berbatasan dengan pertokoan dan permukiman, Sebelah timur dengan gedung Bank Indonesia dan Kantor Pos besar Surakarta, sebelah utara dengan gedung Telkom, dan sebelah selatan dengan Beteng Trade Center(BTC) dan Pusat Grosir Solo (PGS) menjadikan kawasan benteng ini senantiasa dilihat oleh masyarakat Solo yang melintas di jalan Mayor Kusmanto dan jalan Jend. Sudirman Solo. Namun, karena kondisinya yang tua dan karena baru saja “dibebaskan” dari pagar-pagar seng yang menutupinya selama lebih dari 10 tahun, masyarakat setempat tidak telalu memperhatikan aspek sosial yang ada karena pengaruh dari Benteng Vastenburg ini.

Setelah baru-baru ini digunakan kembali sebagai venue atau tempat penyelenggaraan acara atau event berskala lokal maupun internasional, seperti SCE (Soloraya Creative Expo), SIPA (Solo Internasional Performing Arts), dan SCJ (Solo City Jazz), maka banyak tulisan-tulisan dari media massa dan dunia maya yang membahas acara-acara tersebut dan tentunya Vastenburg sebagai tempat penyelenggaraannya menjadi topik utama tulisan tersebut. Hal ini juga banyak mengundang pedagang-pedagang asongan yang berjualan di sekitar kawasan benteng, yang mendatangkan keuntungan besar bagi mereka. Masyarakat Kota Solo juga kini bangga dengan kehadiran satu Kawasan wisata baru Kota Solo, yaitu Benteng Vastenburg ini.

Namun, tetap saja ada hal yang meresahkan masyarakat setempat berkaitan dengan kawasan benteng Vastenburg.Taman kota di kawasan Benteng Vasternburg dijadikan lokasi favorit pasangan muda-mudi memadu kasih alias pacaran pada malam hari. Kondisi itu terjadi lantaran lampu taman kota hingga saat ini tidak menyala. Padahal, pemasangan lampu taman kota dilakukan sejak awal pembangunan taman. Pasangan muda-mudi gemar bercengkrama erat di bawah pepohonan di taman kota yang memanjang Jl. Mayor Kusmanto.

Minimnya penerangan di kawasan membuat pasangan yang sedang dimadu kasih betah bermesraan di lokasi. Sepintas, cahaya lampu hanya didapat apabila ada kendaraan melintas di Jl. Mayor Kusmanto. Ironi, taman kota yang berada di jantung Kota Solo seakan tak diperhatikan perihal penerangan.Bahkan ada pula yang sudah kelewat batas, layaknya hubungan suami istri. Karena di sana kondisinya sangat aman dari pantauan orang.

Adegan memalukan di lahan terbuka, membuat pengendara yang melintas merasa risi. Bagaimana tidak, mereka mengumbar nafsu tanpa rasa malu. Apa yang dikatakannya bukan tanpa dasar. Suatu ketika, dia memergoki pasangan muda-mudi berhubungan layaknya suami istri.

Dengan parahnya kondisi itu, sebaiknya dinas terkait memberikan mengaktifkan lampu yang sudah terpasang. Selain itu, patroli rutin perlu digelar untuk mewaspadai adegan mesum yang kian parah.

Berusia lebih dari 2 abad dengan banyak catatan sejarahnya yang panjang, Benteng Vastenburg seharusnya menjadi warisan sejarah dan prasasti yang dijaga dan di rawat dengan baik. Rencana revitalisasi Benteng Vastenburg telah terdengar semenjak tahun 2008 dan berbagai rencana pemanfaatan Vastenburg juga mulai dirintis. Namun hingga kini Vastenburg tetap lusuh dan rapuh di tengah-tengah kota yang semakin semarak. Semoga Solo dan masyarakatnya dapat memberikan nafas kehidupan pada bangunan mati ini agar plakat “Cagar Budaya” yang ditempel di depan dindingnya tak justru menambah perih nasibnya. Agar di kemudian hari tak harus kambing yang menghuni dan meramaikannya dan tak ada lagi kisah tragis tentang cagar budaya yang menangis.

Sumber:
Solopos Edisi Minggu, 8 Desember 2013

Rabu, 11 Juni 2014

Ilmu dan Pengetahuan

Browse: Home + +

A. ILMU

1. Ilmu dan Pengetahuan
Ilmu dan pengetahuan saling terkait satu sama lain. Ilmu ada karena ada pengetahuan, sebaliknya pengetahuan menyebabkan adanya ilmu. Keterkaitan antara ilmu dengan pengetahuan  memunculkan apa yang disebut dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan paling exact yang diverifikasi secara paling cermat dan yang paling umum yang dapat diperoleh manusia.

Kamis, 22 Mei 2014

25 Rasulullah dan Ajaran Taurat

Browse: Home + +

Tentang 25 Nabi Alloh

1. Nabi Adam ‘Alaihis Salam
Umur : 1000 tahun.
Makam : India, menurut satu pendapat ada di Makkah; dan menurut pendapat lain ada di Baitul Maqdis.

2. Nabi Idris ‘Alaihis Salam
Umur : 865 tahun. 
Makam : (tidak ada informasi