BERDIKARI (BERDIRI DI ATAS KAKI SENDIRI)

The crowning of Independence is not membership of the UN, but the ability to Stand on our own feet.

TRISAKTI TAVIP (TAHUN VIVERE PERICOLOSO)

The Indonesian people can take everything for the sake of revolution.

MANIFESTO POLITIK (USDEK)

The Constitution is made for man, and not man for the Constitution.

PANCASILA (BHINNEKA TUNGGAL IKA)

Between Indonesia and Pancasila is like a Religion with his Teachings.

NASASOS (NASIONALISME AGAMA SOSIALISME)

Tidak ada kerugian bagi Nasionalis jika dalam gerakannya, bekerja bersama-sama dengan Islamis dan Sosialis.

Minggu, 20 April 2014

Putus Internet Kita Merana

Browse: Home + +

Internet? Apa itu Internet?

Internet adalah sumber informasi tentang hal apapun yang tentu akan sangat membantu kehidupan masyarakat, khususnya para pengguna internet. Bagi mereka yang di bidang pendidikan, akan sangat terbantu karena dapat mencari referensi tentang disiplin ilmu yang ia sedang tempuh. Bagi mereka yang di bidang kesehatan akan sangat terbantu karena dapat mencari informasi tentang berbagai ilmu kesehatan. Bagi mereka yang di bidang lain akan sangat terbantu karena akan dimudahkan dalam pencarian informasi tenteng lingkup bidangnya.

Rabu, 16 April 2014

Asal Mula Kejadian Api Dunia

Browse: Home + +

Diriwayatkan bahwa Rasululallah SAW pernah menceritakan asal-usul kejadian api di dunia ini. Setelah Nabi Adam diturunkan ke dunia karena kesalahanya, beliau tidak lagi memperoleh makanan secara mudah seperti di surga. Beliau harus bekerja keras untuk memperoleh buah-buahan atau daging untuk dimakan.

Selasa, 08 April 2014

Sembilan April

Browse: Home + +

Assalamu’alaukum...

Sampai dimanakah kesejahteraan rakyat kita, rakyat indonesia, sekareng ini?
Sejak zaman belanda dan jepang, lalu orde lama, kemudian orde baru, sampai di titik reformasi ini; pagi sore, siang malam kita seolah-olah tergila-gila dan demam dengan yang dinamakan pergerakan, organisasi, partai-partai, atau komunitas-komunitas. Sudah lebih dari satu abad yang lalu kita hampir tidak pernah mengenal kata istirahat di dalam kamus kita. Sejak krisis moneter 1998 dan zaman baru runtuh yang kemudian digantikan zaman reformasi, sejak itu pula kita semakin gencar-gencarnya dengan pergerakan, kita semakin tergila-gila dengan pergerakan, kita semakin membanting tulang dengan pergerakan seperti setan yang keranjingan. Arus perjuangan itu tidak berhenti-henti, arus itu tidak mengenal berhenti, tidak mengenal mandeg, ia terus menerus memimpin kita, terus menerus menarik kita. Yang saya ingin tanyakan kepada saudara-saudara sekalian, Sampai dimanakah kita sekarang ini? Semakin dekatkah kita ke arah kesejahteraan rakyat? Semakin dekatkah kita ke arah keadilan sosial? Semakin dekatkah kita ke arah kemajuan dan persatuan?

Ketika Sekber Golkar didirikan pada tahun 1964 yang kemudian berganti nama menjadi Golkar atau Partai Golkar maka dada para pendirinya penuh dengan rasa cinta tanah air. Ketika pendiri PDI pada tahun 1973 mendirikan PDI yang kemudian berganti nama menjadi PDI Perjuangan, maka dadanya penuh sesak dengan rasa cinta tanah air. Ketika para petinggi Partai Nahdlatul Ulama (NU), dan Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), bersama Perti, dan Parmusi sepakat bergabung dan mendirikan Partai Persatuan Pembangunan (PPP); maka dada mereka penuh dengan rasa cinta terhadap tanah air ini. Ketika PKB, PKS dan PAN, serta PBB didirikan maka dada para pendirinya penuh dengan rasa cinta untuk memperbaiki bangsa. Ketika (Gerakan Keadilan dan Persatuan Bangsa) GKPB didirikan pada tahun 1998 yang kemudian berganti nama menjadi PKP dan selanjutnya menjadi PKPI maka dada para petingginya penuh dengan rasa cinta tanah air. Ketika Demokrat didirikan pada 2001 yang berniat untuk memperbaiki Indonesia ke arah yang lebih baik, maka dada pendiri-pendirinya juga penuh dengan rasa cinta tanah air. Ketika Gerindra berdiri dan menawarkan Nasionalisme (Sayap Kiri)-nya maka dada para pendirinya menyala-nyala dan meluap-luap rasa cinta tanah air. Ketika para perintis Hanura berhasil mendirikan Hanura pada 2006 yang kemudian pada 2013 merangkul Partai Kedaulatan, Partai Republika Nusantara (RepublikaN), Partai Nasional Republik (Nasrep), Partai Indonesia Sejahtera (PIS), Partai Pemuda Indonesia (PPI), Partai Kongres, Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN), dan Partai Demokrasi Pembaruan (PDP), serta Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI); maka dada para petingginya penuh dengan rasa cinta tanah air. Ketika Ormas NasDem didirikan pada 2011 yang kemudian bermetamorfosa menjadi partai politik maka dada para pendirinya penuh dengan rasa cinta tanah air.

Kita dalam era reformasi ini, sama-sama mengamalkan rasa cinta tanah air. Tetapi dasar yang mendorong kita kepada rasa itu tidak selalu sama. Satu partai dengan partai yang lain memiliki perbedaan tafsiran terhadap cinta tanah air itu. Yang satu mengamalkan rasa cinta tanah air itu karena mereka merasa perlu memeihak golongan Atas agar dapat berkembang dan membangun Indonesia, yang lain mengamalkan rasa cinta tanah air karena merasa perlu membela kaum Bawah, kaum Marhaenis yang selalu ditindas. Yang satu mengamalkan rasa itu karena menginginkan persatuan yang didasarkan pada rasa keagamaan yang sama, dan yang lain mengamalkan rasa itu karena berlandaskan pluralisme, humanisme, bahkan ada yang berlandaskan nasionalisme.

Semua partai itu mengamalkan cinta tanah air, bahkan barangkali semuanya mengejar Indonesia Sejahtera. Tetapi jika kita dalami satu per satu partai itu, sejak dari dari zaman belanda sampai sekarang ini, bahkan sejak dari Budi Utomo sampai sekarang ini, timbulah suatu pertanyaan yang abadi di pikiran kita: “Dapatkah partai-partai itu dalam bentuknya yang seperti itu dapat membawa rakyat Indonesia ke padang kesejahteraan yang kekal dan abadi?”.

Inilah suatu pertanyaan yang penting, pertanyaan yang harus dijawab, karena jawabannya itu terdapat pelajaran untuk perjuangan kita ke depan. Baiklah, sekarang saudara bisa menjawab pertanyaan di atas. Apapun jawaban saudara, pasti intinya: “Partai-partai itu di dalam sifat politiknya yang seperti itu tidak dapat membawa rakyat Indonesia kepada kesejahteraan yang kekal dan abadi”. Kenapa begitu? Karena setiap partai-partai itu saling menderita suatu kekurangan-kekurangan. Mari kita ambil contoh PKPI. Jikalau PKPI ingin mengikhtiarkan Indonesia Sejahtera, dapatkah ia berhasil? Dengan apa? Dengan anggota-anggotanya yang tidak banyak itu? Atau saudara melayangkan pikiran kepada Golkar, yang dahulu terkenal melegenda sebagai satu partai rakyat yang terbesar, yang anggotanya jutaan orang? Golkar adalah suatu partai yang massal, tetapi ia bukan partainya massa. Anggota-anggotanya terdiri dari kalangan elite, kalangan yang terpandang. Atau katakanlah PDIP, maka apakah PDIP dapat membawa Indonesia ke arah kesejahteraan? PDIP partainya massa, banyak anggotanya adalah kalangan bawah tetapi tidak sedikit pula anggotanya berasal juga dari kalangan elite, dari kalangan terpandang, dari kalangan atas. Dengan demikian, saya katakan PDIP tidak dapat membawa Indonesia ke arah kesejahteraan. Lalu bagaimana dengan Demokrat? Meskipun hari ini Demokrat mau banting setir ke arah yang benar atau jikalau Demokrat hari ini sudah di arah yang benar, tetapi citra Demokrat sudah hancur lebur (tidak dipercaya) di hadapan rakyat Indonesia karena beberapa kasus yang menerjang petinggi-petingginya belakangan ini. Bahkan saya dapat katakan bahwa, “seribu dewa dari kayangan tidak akan mudah membuat citra demokrat menjadi baik”. Lalu kita ambil Gerindra, yang sebagian besar anggotanya adalah para nasionalis. Dapatkah jika Gerindra? Jika Gerindra mau merubah Indonesia Rayanya menjadi Indonesia Sejahtera, maka tentulah visi akan lebih mudah diterima segala kalangan. Kemudian ambillah Hanura. Baiklah saudara, Hanura memang didukung oleh media massa yang bepengaruh di Indonesia, tetapi hanura seperti tidak mau berkoalisi dengan partai lain, tidak mau berkoalisi dengan rakyat sendiri. Sebagian besar Iklan yang disampaikan lewat media miliknya sediri hampir-hampir tidak sampai ke rakyat kalangan menengah. Bagaimana jika partai Islam seperti PKS, PKB, PAN, PBB, atau PPP? Jawabannya tentu ‘tidak dapat’. Kenapa? Ingatlah, bahwa Indonesia bukan hanya terdiri dari kalangan Islamis tetapi juga kalangan-kalangan lain yang berbeda. Partai Islam hanya memandang bahwa perjuangan kesejahteraan ini sebagai perjuangan Islam sendiri, dan kurang memperhatikan perjuangan rakyat nasional Indonesia, dan kurang memperhatikan perjuangan internasional. Atau saudara tiba-tiba teringat NasDem yang dulunya ormas kemudian menjadi partai politik, yang metamorfosanya tersebut juga terdapat kontra. Partai pengusung slogan perubahan ini memiliki kekurangan mendasar, yaitu bahwa partai ini mengira bahwa Indonesia harus berubah, bahwa Indonesia harus dipimpin menjadi baru, padahal tidak. Bahkan jika benar mengusung dan mengamalkan slogan perubahan, tentulah NasDem sendirilah yang harus dipimpin oleh orang baru, dipimpin oleh pemikiran yang baru, dipimpin oleh tokoh-tokoh yang baru pula, bukan yang lama.

Lalu bagaimana cara mewujudkan kesejahteraan tersebut?

Sabtu, 05 April 2014

Tips Trik Memancing Ikan

Browse: Home + +

Tips dan Trik Memancing secara Umum

Memancing adalah olahraga menyenangkan yang memerlukan keterampilan, dan kesabaran. Jika kita berbicara memancing secara umum, saya akan memberikan beberapa tips memancing yang berhasil saya kutip dari beberapa sumber.

1. Jika memancing di danau atau di sungai, memancinglah di tempat yang mana air berubah dari dangkal ke dalam. Karena Ikan akan berkumpul dan mencari makanan di daerah seperti ini.

2. Carilah daerah berlumut, karena ikan lebih memilih untuk berenang di daerah ini untuk mencari makanan.